Dari Dewi Persik hingga Julia Perez

Gatal rasanya tangan ini mau nulis komentar buat Dewi Persik dan Julia Perez (Jupe). Pada awalnya, Dewi Persik di cekal oleh Walikota Tangerang gara-gara goyangannya dinilai mengundang syahwat bagi para penontonnya. Terlepas benar atau tidaknya asumsi tersebut, pencekalan ini diikuti oleh wilayah yang lain seperti Bandung dan Depok. Dewi Persik yang pada awalnya gigih membela diri ketika berseteru dengan Walikota Tangeran dan sempat berekspresi bernada meremahkan, namun kini sudah tidak mau berkomentar lagi setelah banyak daerah mencekal dia. Gimana kalo komentar kalo itu bikin rejekinya macet? (Bahkan mantan suaminya, Saiful Jamil, berniat akan mencekal jika dia tercalon menjadi Wakil Bupati Serang-Inilah dagelan lain lagi jika Saeful Jadi Wakil Bupati).

Entertainer atau payudara?

Dewi selalu berkilah kalau goyangannya itu adalah semata-mata karena tanggung jawabnya sebagai seorang entertainer. Bahkan argumentasinya ini mendapat dukungan dari sineas muda Riri Reza ketika dalam dialog bersama dengan Menpora Adyaksa Dault di salah satu TV swasta. Riri salut dengan Dewi yang sangat “artukulatif” dan tegas dalam mengemukakan alasannya. (Artikulatif? ah yang bener aja….Dewi Persik kan penyanyi, bukan penari bung?). Dalam kesempatan yang lain, Dewi juga mengatakan bahwa dia selalu berusaha menempatkan diri dalam berbusana. Kurang lebih dia mengatakan “mana mungkin saya datang ke pengajian mengenakan pakaian seksi dan terlihat payudaranya? saya juga tahu sopan santun, saya dibesarkan dalam lingkungan agama. Apa perlu saya bawa-bawa pesantren keluarga kesini?”

Justru pernyataan ini yang membuat aku heran. Pesantren kok masih sempat-sempatnya dibawa untuk menjustifikasi goyangan dangdutnya itu. Menurut dia (penafsiranku berdasarkan pernyataan dia di atas) , berbusana seksi dan keliatan payudaranya halal-halal saja, selama itu dilakukan di atas panggung untuk hiburan. Rupanya, “aurat” itu tergantung situasi dan kondisi serta suasana hati. Pamer aurat untuk kepentingan bisnis boleh-boleh saja. Jadi, menurut dia, aurat hanya berlaku ketika mau pengajian dan sholat saja. Kurang lebih demikianlah menurut perempuan yang – katanya – punya pesantren di Jember ini.

Belum lagi usai kasus Dewi Persik, Julia Peres (Jupe) ditegur oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, gara-gara Jupe menyertakan kondom di dalam album perdananya “Kama Sutra.” Jika niat Jupe memang untuk kampanye penanggulangan HIV/Aids, dia disarakan untuk melakukannya melalui lembaga penanggulangan HIV/Aids. Jupe pun pasrah dia album yang ada kondomnya itu ditarik dari peredaran, meskipun sang menteri tidak pernah memerintahkan penarikan itu.

“Condom ambassador,” kata Jupe

Usut punya usut, ternyata ide menyertakan kondom di dalam albumnya itu berasal dari produsen kondom yang memakai Jupe sebagai bintang iklannya. Ini terungkap dalam acara Good Morning di Trans TV (29 April 2008, WIB) bersama dengan Ferdy Hasan dan Rieke Diah Pitaloka. Motifnya ternyata ya…..tetep aja jualan kondom, bukan kampanye mbak yu.

Pangsa pasar dan HIV/Aids

Kalau memang kampanye kok pangsa pasarnya nggak jelas gitu. Nggak ada bedanya dengan jualan permen karet dan balon. Artinya siapa saja bisa beli dengan bebas. Kalau udah gini, trus esensi kampanyenya di mana coba? (mikir atuh mikir: Sule API mode ON). Lagian tuh ya, memang sih kondom salah satu alat kontrasepsi yang efektif untuk mencegah tertularnya HIV/Aids. Tapi ada faktor lain yang tak kalah pentingnya, yakni pemakaian jarum suntik dan cenderung mewabah di kalangan pecandu narkoda. Pahami dulu isunya, barulah kampanye.

Free-seks VERSUS safe-sex

Berulang kali Jupe berdalih bahwa dia sangat tidak sepakat dengan free-sex dan tetapi mendukung safe-sex. Ada ambiguitas pemahaman disini. Apakah semua safe-sex itu tidak mengandung unsur free-sex dan apakah semua free-sex itu tidak safe? Bagaimana jika perilaku free-sex itu mengikuti kaidah safe-sex? apakah Jupe akan mendukung juga?. Kalau yang dia maksud dengan free-sex adalah sex pra-nikah, tentu saja banyak yang mendukung. Tetapi bila yang dia maksud safe-sex adalah perilaku sex aman (baik oleh pasangan nikah ataupun sex pra/non nikah), maka perlu penelusuran lebih lanjut. Agak grogi juga ketika Rieke menanyakan tentang seks bebas, tahulah kalau Jupe pernah melakukan sex pra nikah pada masa dia masih di bangku SMA (ini bukan fitnah, tapi hasil liputan di salah satu TV swasta beberapa tahun silam pada acara yang ditayangkan tengah malam).

Tapi buat Jupe, meskipun niatnya baik tapi kalau caranya kurang pas juga menjadi kurang bermanfaat. Cara tidak kalah pentingnya dengan isi. Namun, niat baik perlu dihargai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: