Emergency Contraception

Pernahkah anda mendengar istilah “emergency contraception”? Saya sendiri merasa agak aneh mendengar istilah itu di seminar Legislative Education and Advocacy Day yang digelar oleh Center for Social Justice, School of Social Work, SUNY @ Stony Brook , pada 23 Februari 2007 setahun lalu. Konon, Emergency Contraception (EC) ini sudah mafhum di Amerika Serikat sejak tahun 1970-an. Sesuai dengan namanya, EC ini memiliki fungsi seperti layaknya alat kontrasepsi lainnya, yakni mengindari kehamilan. Cuma bedanya, jika alat kontrasepsi lainnya yang digunakan sebelum/sedang melakukan hubungan seksual, EC yang berbentuk kapsul atau pil ini dikonsumsi setelah melakukan hubungan intim untuk mencegah tumbuhnya zygote, dan tentu saja perempuan yang harus meminumnya. Untuk bisa memperoleh hasil yang maksimal, dianjurkan untuk mengkonsumsinya dalam rentang waktu maksimal 120 jam setelah berhubungan intim. Katanya, semakin cepat dikonsumsi, semakin maksimal hasilnya.

Perdebatan kemunculan dan perkembangan alat kontrasepsi ini memang menarik untuk disimak, mengingat banyak aspek yang melingkupinya. Sebagian orang beranggapan bahwa alat kontrasepsi ini memberikan jalan keluar atau pilihan lain bagi pasangan yang tidak menginginkan kehamilan namun memperoleh kepuasan seksual yang maksimal. Sedangkan sebagian yang lain mengatakan bahwa pil ini justru akan semakin memperparah kebiasaan melakukan hubungan intim yang tidak aman (unsafe sex practices).

Kalau kita melihat pendekatan agama (agama apapun juga) tentunya fenomena alat kontrasepsi ini menjadi sesuatu yang memprihatinkan. Persoalan sebenarnya adalah bukan pada alat kontrasepsinya itu sendiri, akan tetapi perilaku yang mendasari ide kreatif munculnya alat kontrasepsi tersebut. Saya yakin, agama apapun tidak ada yang sepakat dan memberikan jalan terhadap perilaku seks bebas (free sex) dan seks pra-nikah (pre-marital sex). Selain dianggap dosa, perilaku seksual pra nikah ini akan membawa banyak dampak negatif bagi kemanusiaan, seperti munculnya berbagai macam penyakit kelamin karena perilaku suka berganti pasangan. Agama diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur kehidupan manusia. Jika aturan itu dilanggar, maka kehidupan ini akan menjadi berantakan. Memang, kalau kita berpijak dari sudut pandang agama, kita akan menemukan jawaban yang sangat simpel dan mudah. Jika tidak ingin memiliki anak, maka jangan melakukan hubungan seksual. Jika ingin melakukannya, maka menikahlah. As simple as that.

Tidak hanya kemunculan EC ini, alat kontrasepsi yang lain seperti kondom, spiral, suntik dan pil juga banyak dikecam oleh kaum agamawan karena dianggap melanggar kodrat Illahi dan menginjak-injak nilai kemanusiaan. Bahkan klaim yang paling sadis adalah “pembunuhan” terhadap calon janin. Selain itu target mayoritas alat kontrasepsi adalah kaum perempuan, kecuali kondom, yang tentu saja hanya bisa dipakai oleh kaum adam. Kaum pembela hak perempuan bahkan juga ada yang protes kenapa hampir semua alat kontrasepsi itu targetnya perempuan. Bagi saya, jawabannya mudah saja. Kalau yang hamil laki laki, maka yang meminum pil, pake spiral dan suntik tentulah laki laki. Bahkan kalau para pembela kaum perempuan merasa di diskrimasi, maka sebagai laki-laki pun saya mungkin juga akan protes bahwa kondom itu sangat stereotipikal sekali. Selain untuk mencegah kehamilan dengan menampung luapan sperma, kondom – katanya – untuk mencegah penularan penyakit kelamin. Di sini terkesan bahwa kaum laki-laki adalah penyebar penyakit kelamin karena perilaku berganti pasangan. Saya sendiri tidak ingin terlibat perdebatan yang panjang dan ter berujung ini. Saya kira ini hanyalah masalah assembling yang kita terima sebagai produk akhir dari perusahaan built-up Tuhan.

Cost-benefit analysis bisa digunakan untuk melakukan assessment terhadap keberadaan alat kontrasepsi ini. Perhitungan untung-rugi bisa dijadikan masukan untuk memformulasikan langkah-langkah pencegahan – atau paling tidak meminimalisir – dampak buruk dari pemakaian alat kontrasepsi ini. Marilah kita coba melihat lebih dalam manfaat dan madharat dari alat kontrasepsi ini, tentu saja dari sudut pandang budaya ketimuran. Prinsipnya, alat kontrasepsi dimaksudkan untuk mencegah kehamilan bagi pasangan yang melakukan hubungan seksual (menikah) dan belum menginginkan untuk memiliki anak. Kalau memang demikian, saya berpikir betapa mulianya tujuan alat kontrasepsi ini. Kita sebagai manusia tidak mungkin mengingkari bahwa kita memiliki kebutuhan biologis yang harus tersalurkan secara aman dan beradab. Namun kita juga menyadari bahwa memiliki anak merupakan tanggung jawab yang perlu butuh persiapan mental dan fisik. Dengan demikian pasangan menikah bisa lebih memiliki persiapan dalam menjalani kehidupan rumah tangganya. Kalau memang demikian, maka wajarlah jika kemudian Indonesia dianggap sebagai negara yang telah sukses dengan program Keluarga Berencana (Family Planning) dengan motto “Dua anak Cukup”. “Silahkan anda berhubungan seksual dengan pasangan sah anda sesering yang anda mau, tapi soal anak – kami mohon – cukup dua saja karena itu sudah cukup untuk membuat keluarga bahagia, apalagi dengan gaji PNS.” Kira-kira begitulah isi pesan motto tersebut.

Nah, sekarang apa dampak negatif dari alat kontrasepsi ini? Tentu saja penyalahgunaan alat kontrasepsi oleh orang-orang yang sebenarnya bukan menjadi target pasar. Salah satu contoh adalah perlaku hubungan seksual di luar nikah marak terjadi di kalangan remaja, pelajar dan mahasiswa karena mereka merasa aman melakukan hubungan seksual tanpa berpikir tentang akibat kehamilan. Jika memang kehamilan adalah satu-satunya faktor penghambat hubungan seksual, maka dengan alat kontrasepsi ini, mereka merasa menemukan jalan keluar yang efektif. Maka tidaklah heran jika beberapa tahun yang lalu Iip Wijayanto dalam bukunya “Sex in the Kost”, mengatakan bahwa hampir sebagian besar kos-kosan di DIY ditengarai sebagai tempat mesum para pelajar dan mahasiswa. Keadaan ini didukung dengan fakta bahwa memang banyak sekali kos-kosan yang campur aduk antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, pihak pemilik kos tidak perlu merasa bertanggung jawab dengan apa yang diperbuat oleh anak semangnya selama mereka rutin membayar uang bulanan.

Akibat buruk lain dari alat kontrasepsi ini adalah dampak kesehatan bagi para pemakainya, lagi-lagi perempuan menjadi obyek paling menderita dalam hal ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemasangan spiral, suntik dan pil memiliki efek samping yang membahayakan bahkan bisa berakibat fatal jika tidak memperhatikan prosedur kesehatan yang memadai dan bertanggung jawab. Saya teringat kejadian beberapa bulan ke belakang, seorang ibu tetangga dekat saya meninggal karena kanker. Konon, penyakit kanker itu muncul diakibatkan oleh KB suntik yang teledor. Banyak sekali cerita-cerita tidak menyenangkan seputar pemakaian alat kontrasepsi yang menimpa kaum perempuan. Akibat yang paling ringan adalah mengalami obesitas atau kegemukan.

Kalau kita cermati, sebenarnya akibat buruk selalu diakibatkan oleh faktor manusia (human error) yang seharusnya bisa dihindari. Perilaku seks bebas misalnya, bisa diminimalisir dengan cara memberikan akses terbatas bagi siapapun terhadap alat kontrasepsi. Penjualan bebas alat kontrasepsi ini akan memberikan peluang semakin maraknya perilaku seks bebas di kalangan remaja. Pernah lihat film “Jomblo “? Disitu jelas sekali bagaimana Agus dengan mudah mendapatkan kondom dari warung kaki lima. Meskipun kemudian Agus mengurungkan niat melakukan hubungan seksual dengan Lani setelah melihat pasangan yang pulang dari Masjid. Film ini menunjukkan betapa mudahnya memperoleh kondom. Sebagai bagian dari masyarakat, penjual warungpun tidak merasa perlu melakukan study kelayakan terhadap pembelinya. Sebelumnya tokoh Lani pun pernah melakukan hubungan seksual dengan mantan pacarnya hanya dengan alasan bahwa mereka saling menyayangi. Demikian murah kah harga perawan jaman sekarang? dengan kata-kata sayang saja bisa dengan mudah didapatkan. Wallahu A’lam (Tuhan lebih tahu).

Marilah kita dudukkan persoalan sebagaimana mestinya. Alat kontrasepsi ini harus dikembalikan kepada fungsi semula dan harus disertai dengan prosedur kesehatan yang memadai. Pemerintah dan kaum yang memiliki otoritas harus melakukan sesuatu untuk membatasi penyelewengan alat kontrasepsi supaya tidak dipergunakan oleh selain target pasar. Pembatasan umur, bukti pemilikan identitas dan tempat penjualan khusus misalnya, bisa dijadikan langkah awal untuk menanggulangi penyelewengan. Masyarakat juga harus berperan aktif menanggulangi dampak negatif dari penyalahgunaan ini sesuai dengan kapasitas dan peran masing-masing. Penyebaran informasi yang hingga ke pelosok-pelosok daerah tentang alat kontrasepsi ini bisa dilakukan melalui forum-forum kemasyarakatan setempat yang sudah ada, seperti PKK, rapat desa, penyuluhan, dsb. Community-based institutions menduduki posisi sangat penting dalam hal penyebaran informasi ke masyarakat tingkat bawah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: