Homoseksual: Media dan Alternatif Pendekatan

Akhir tahun 2007 lalu, saya menyaksikan film Indonesia berjudul Kala lewat YouTube, salah satu video hosting terkemuka di Amerika Serikat. Film yang dibintangi antara lain oleh Fahri Albar, Agus Melaz, Frans Tumbuan, Shanty,dan Rima Melati itu memiliki ide cerita sangat menarik, yakni tentang perburuan harta karun presiden pertama yang melibatkan elit politik dan aparat negara. Dari beberapa scene yang diambil, ada satu scene yang menarik buat saya, dimana Eros (seorang anggota polisi) menginap di motel bersama dengan pasangan “laki-lakinya.” Meskipun adegan itu tidak memperlihatkan “kemesuman” secara terbuka, namun pesan yang dibawa cukup jelas, yakni mereka adalah pasangan homoseksual. Saya jadi teringat beberapa film Indonesia yang sempat saya tonton lewat website yang sama beberapa waktu yang lalu, yakni Merah itu Cinta (MIC), Pesan Dari Syurga (PDS) dan Cokelat Stroberi (CS).

Dalam MIC, identitas Rama (Yama Carlos) dan Arya (Gary Iskak) sebagai pasangan homoseksual terungkap di akhir cerita. Rama meninggal dalam sebuah kecelakaan di jalan tol Jagorawi ketika hendak pulang menuju rumah tunangannya Raisya (Marsha Timothy). Sepeninggal Rama, Raisya depresi berat sampai saat ketika Arya datang menjenguknya. Singkat cerita, Raisya kemudian sempat menaruh hati pada Arya yang sebenarnya hanya ingin merasakan sentuhan terakhir Rama (pacar homoseksualnya) lewat perantaraan Raisya. Film diakhiri dengan perpisahan antara Arya dan Raisya yang melanjutkan kehidupan masing-masing. Dalam film PDS, jelas sekali disitu diceritakan bagaimana seorang drummer band (Lukman Sardi) memiliki hubungan dengan suami seorang perempuan yang sedang hamil. Hubungan itu dimulai bahkan sebelum pasangannya menikah dengan perempuan tersebut. Tidak ada seorangpun yang mengetahui hubungan sembunyi-sembunyi pasangan homoseksual itu, kecuali anggota band yang memiliki kebiasaan untuk saling berbagi cerita di setiap akhir latihan atau manggung.

Cerita lain yang serupa juga terjadi dalam film CS, tokoh Aldi dan Nesta (pasangan homoseksual) yang indekos serumah dengan Citra (Marsha Timothy) dan Kay (Nadia Saphira). Aldi dan Besta berusaha untuk menyembunyikan hubungan mereka di depan semua orang, termasuk di depan rekan satu kost-nya. Persoalan muncul ketika Nesta jatuh hati dengan Kay dan keduanya pun mulai pacaran. Hal itu membuat Aldi sangat terpukul. Apalagi setelah Nesta menyatakan bahwa dia benar-benar mencintai Kay dan memutuskan bahwa ia menemukan jalan hidupnya. Cerita diakhiri dengan putusnya hubungan Nesta dengan Aldi, dan dimulainya hubungan baru Nesta dan Kay.

Dari keempat film itu, saya mendapat kesan film tersebut menegaskan bahwa pasangan homoseksual masih dianggap tabu menurut budaya timur, khususnya di Indonesia. Keberadaan mereka masih dianggap aib yang harus selalu ditutupi supaya tidak diketahui oleh publik. Mereka harus hidup dalam kepura-puraan supaya dirinya dianggap “normal” oleh masyarakat luas. Biasanya, identitas asli akan diketahui oleh masyarakat dalam dua keadaan, yakni ketahuan atau mereka dipaksa untuk mengaku. Tidak ada satupun pasangan homoseksual (gay atau lesbian) yang secara terang-terangan mengaku dan memperlihatkan status mereka secara sukarela, karena itu akan dianggap membuka aib sendiri. Sikap ini memang memang wajar mengingat di negara kita, yang sebagian besar warganya beragama Islam, belum (baca: tidak) memberikan ruang untuk kehidupan pasangan homoseksual.

Jangankan pasangan homoseksual, pasangan beda agama saja masih menjadi polemik yang panjang dan belum ada kesepakatan secara hukum. Bagi pasangan yang lumayan berada mungkin tidak begitu bermasalah. Mereka bisa melangsungkan pernikahan beda agama ataupun pasangan sesama jenis di luar negeri. Kenyataan yang ada di negara kita ini sangat kontras sekali dengan apa yang saya alami satu setengah tahun ini hidup di New York. Meskipun saya tidak tinggal di jantung kota Manhattan, tapi paling tidak sebulan sekali saya menyempatkan diri untuk pergi ke New York City dengan menggunakan kereta dari Stony Brook, Long Island dengan jarak tempuh kurang lebih dua jam. Pada liburan musim panas 2007 ini, saya berkesempatan untuk menyaksikan sebuah penampilan teatrikal tahunan yang digelar di Central Park, yakni Shakespeare in the Park. Tahun Lalu ada dua penampilan yang sempat saya tonton yakni, Romeo and Juliet dan Midnight Summer’s Dream, setelah harus rela antri tiket gratis sejak jam 4 pagi hingga jam 2 siang. Saya masih ingat betul dengan apa yang saya saksikan dalam perjalanan sepulang dari pertunjukan kedua. Saya beserta 4 orang temen Indonesia dan satu orang teman Nigeria berjalan keluar dari teater. Di tengah kerumunan orang, sekilas tatapan saya tertuju pada pasangan laki-laki dengan cueknya (maaf) berciuman bibir. Saya terkejut luar biasa, karena itulah pertama kali saya melihat secara langsung pasangan gay berciuman di depan publik. Belum usai rasa terkejut saya, ternyata kawan dari Nigeria ini melihat juga kejadian itu dan dia sempat bergumam, “Oh God, It’s disgusting.” Saya hanya tersenyum saja mellihat reaksi teman saya ini. Saya faham bahwa itu adalah reaksi spontan dan tidak ada maksud apapun.

Kenapa harus lewat film?

Secara teori, sebuah komunikasi akan terjadi jika ada memenuhi tiga syarat utama, yakni komunikator, komunikan dan media. Komunikator berupaya mengkomunikasikan pesannya melalui media untuk bisa sampai kepada komunikan. Dalam kasus film di atas, pihak komunikator adalah pembuat film, bias jadi penulis scenario, sutradara dan para pemain yang terlibat dalam produksi film itu (terlepas mereka sadar atau tidak jika mereka membawa pesan tertentu dengan peran yang mereka mainkan). Film, sebagai sebuah media komunikasi dapat secara efektif menghantarkan pesan melalui tampilan visual dan audio kepada pemirsanya. Kekuatan gambar ini sangat luar biasa, bahkan ada pepatah mengatakan bahwa Images talk louder than voices . Artinya pesan yang disampaikan melalui media gambar lebih efektif dibandingkan dengan penyampaian pesan melalui lisan saja. Salah satu buktinya adalah iklan-iklan yang terdapat di billboard, baliho dan papan reklame lainnya. Gambar akan membentuk image (baca: imej) bagi para pemirsanya. Media audiovisual sekarang ini mungkin menempati rangking pertama dalam hal efektifitas komunikasi. Perhatikan saja, berapa jam dalam sehari kita menyaksikan tayangan-tayangan televisi, mulai dari cerita anak, berita, lagu, ceramah, kuis, sinetron, hingga film.

Maka tidaklah mengherankan jika fenomena homoseksual ini dicoba dikomunikasikan melalui media audiovisual oleh para pembuat film. Mereka ini mungkin mencoba mengkomunikasikan pesan mereka agar kita sadar dengan keadaan di sekeliling kita. Kita diajak untuk melihat kenyataan dan sensitif terhadap apa terjadi di lingkungan kita sendiri. Fenomena homoseksual bisa dialami oleh siapa saja, tidak memandang status ekonomi, sosial, agama, budaya dan pendidikan.

Lalu bagaimana sikap kita?

Baik itu sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan, yang jelas kenyataan itu ada di tengah-tengah kita. Kita dituntut untuk bisa menyikapinya dengan bijaksana dengan tanpa mengadili satu sama lain. Jika menggunakan pendekatan agama, setahu saya tidak ada agama manapun di dunia ini yang memberikan restu untuk pasangan homoseksual. Hubungan tersebut dianggap menyalahi kodrat kemanusian dan bisa mengancam kelangsungan hidup manusia sebagai makhluk pelestari dan khalifah di muka bumi. Dalam Islam hubungan semacam itu digambarkan dalam kisah umat Nabi Luth, sebuah kaum yang kemudian dimusnahkan oleh Allah dengan berbagai macam bentuk adzab.

Lalu, bagaimana kita mensikapi fenomena homoseksual ini? Sebaiknya kita mendudukkan segala sesuatu pada asalnya, agar kita terhindar dari perbuatan dzalim. Artinya, kita harus berpikiran jernih dalam melihat sebuah persoalan, tanpa dihinggapi dengan pre-assumption dan bias apalagi prejudice supaya kita bisa lebih berbuat adil.

Pertama, siapapun itu, kaum homoseksual adalah juga manusia biasa yang berhak mendapatkan penghidupan yang layak dan dilindungi haknya. Perilaku diskriminasi dalam bentuk apapun terhadap kaum homoseksual merupakan sikap ketidakadilan dan bentuk lain dari penindasan hak asasi manusia. Apalagi – dengan tanpa bermaksud menyederhanakan persoalan – hal dasar yang menbedakan antara kaum homoseksual dan heteroseksual adalah perbedaan orientasi seksual.

Kedua, melihat persoalan dengan menggunakan pendekatan yang memberikan kemaslahatan bagi umat manusia. Karena pendekatan akan sangat menentukan sikap akhir dan penyelesaian. Dari pendekatan agama (setidaknya Islam yang saya tahu) misalnya, tidak ada ruang sedikitpun terhadap perilaku seksual yang dianggap menyimpang ini. Seperti halnya perilaku seksual pra nikah yang juga dilarang dalam agama, demikian juga dengan hubungan incest (sedarah). Kalau memang pendekatan ini yang mau dipakai, maka harus dicarikan jalan keluarnya. Demikian pula jika menggunakan pendekatan ilmu social. Perilaku ini sering dianggap sebagai penyakit psikologis yang disebabkan oleh proses nurturing (pendewasaan dan didikan), sehingga perlu disembuhkan. Kalo memang demikian, maka perlu dicarikan bagaimana proses “penyembuhan” itu tetap mengacu pada prinsip utama, yakni prinsip-prinsip kemanusiaan.

Ketiga, memberikan jalan keluar yang dianggap sesuai dengan konteks kemasyarakatan.
Pada masayarakat Indonesia yang memiliki budaya patriarkhal dan ikatan komunalitas sangat kuat, peran golongan pemegang otoritas sangat penting untuk bisa menyelesaikan semua persoalan bangsa. Termasuk masalah homoseksual ini. Hal tersebut berbeda dengan masyarakat Barat yang sangat individual. Masing-masing orang memiliki tanggung jawab terhadap apa yang menimpa diri mereka sendiri.

Pendidikan dan Pengawasan

Lalu, bagaimana kita bisa membantu kaum homoseksual tidak hanya dengan cara-cara yang manusiawi tapi juga memberikan kemaslahatan bagi umat? Pendidikan agama dan nilai-nilai budaya adiluhung perlu ditanamkan sejak usia dini oleh orang tua di rumah dan guru di sekolah. Pengenalan dunia seks yang selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan, perlu di perkenalkan sejak usia anak anak. Mengapa demikian? melihat perkembangan dunia informasi dan komunikasi saat ini, sangatlah mungkin jika anak-anak mencari jawaban atas pertanyaan -pertanyaan mereka dari berbagai macam sumber; internet, televisi, radio, teman dan lainnya yang belum tentu bias dipertanggungjawabkan secara moral dan intelektual. Akan lebih baik jika sang anak mendapatkan informasi dari sumber yang reliable dan bertanggung jawab. Saya tidak mengatakan bahwa media massa tersebut tidak reliable. Tetapi seringkali informasi yang diberikan memerlukan penjelasan tambahan,, apalagi untuk golongan umur dan pendidikan tertentu. Inilah alasannya mengapa bimbingan orang tua kepada anak selama menonton televisi sangatlah dianjurkan

Sejak dini, orang tua dan guru selalu mengikuti perkembangan anak dan peserta didiknya secara intensif. Sehingga jika terjadi sebuah perubahan sikap yang mengarah pada perilaku “menyimpang” akan bisa terdeteksi secara dini dan bisa diatasi sebelum perilaku itu menjadi lebih jauh sehingga lebih sulit untuk bias diatasi. Utamanya pada saat anak menginjak masa puber dan memasuki masa young adolescent (pra-remaja) dan adolescent (remaja) yang ditandai dengan identity crisis (krisis identitas) (Eriksson, 1968). Proses pencarian identitas ini sering diikuti dengan pola perilaku untuk show off (pamer) yang sayangnya mengarah pada hal-hal yang kurang baik, misalnya penggunaan narkoba, balapan liar, dan lainnya. Harus diperhatikan bahwa anak-anak sekarang mengalami masa puber lebih cepat dibanding dengan generasi 10-30 tahun yang lalu. Sehingga, saat-saat penting pengawasan harus dimulai sejak sekolah dasar hingga SMU. Bahkan bukan tidak mungkin, perbuahan perilaku terjadi pada saat mereka di bangku kuliah.

Karena itulah kemudian Susan R. Komives (2003), seorang praktisi kampus bidang kemahasiswaan (student affairs), mengingatkan kita dengan istilah “in loco parentis.” Pada masa-masa awal berdirinya perguruan tinggi di Amerika Serikat, istilah tersebut sangat popular di kalangan akademisi. Istilah itu memberi makna bahwa institusi kampus berperan sebagai pengganti orang tua untuk mengawasi tingkah laku dan prestasi anak didik di kampus. Isu ini merembet pada persoalan liability (tanggung jawab). Sehingga apa yang terjadi ketika anak berada di bangku kuliah sepenuhnya menjadi tanggung jawab kampus. Namun perlu diingat pendidikan tinggi Amrika Serikat pada masa awalnya mengikuti pola pendidikan Inggris, yakni konsep residential institution. Artinya, mahasiswa diwajibkan untuk tinggal di dalam kampus selama 4 tahun masa studinya. Dua institusi terkemuda Harvard dan Yale pada awalnya mengikuti konsep tersebut. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, konsep in loco parentis ini pun berakhir di era 60-an. Pada saat itulah muncul keprihatinan terhadap perkembangan spiritual anak didik, terutama di kampus-kampus negeri yang sekuler (Temkin &Evans, 1998).

Bagaimana dengan Indonesia? Dalam konteks negara kita, sekali lagi, peran golongan otoritas sangat penting dalam memberikan kontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemerintah dan negara yang berkepentingan mengangani masalah komunikasi dan media massa harus cerdas membaca situasi yang tengah berkembang. Diperlukan adanya pendekatan multidisipliner; psikologi, sosiologi, antropologi, komunikasi, dan pekerja sosial (mungkin) untuk memberikan potret yang komprehensif tentang apa yang tengah terjadi. Salah satu contohnya adalah dalam kasus majalah “seronok.” Jikalau memang isi dan materi di dalam majalah masih diperdebatkan (terutama interpretasi tentang pornografi dan estetika), paling tidak peran pemerintah diperlukan dalam hal distribusi dan akses. Pembatasan akses terhadap materi-materi dewasa (baca: porno dan seronok) akan sedikit banyak melindungi generasi muda dan pelajar dari dampak negatif yang mungkin saja timbul. Strategi semacam ini juga bisa diterapkan dalam hal pemutaran film di bioskop, penayangan televisi, peredaran CD, DVD, dan lain lain.

Peran masyarakat juga tidak kalah pentingnya. Segala apa yang terjadi di tengah-tengah kita merupakan tanggung jawab bersama. Semua harus sadar akan posisi dan tanggung jawab masing-masing. Seorang agamawan berkewajiban menyebarkan kebajikan tanpa penghakiman dan dakwaan. Seorang guru, menjalankan tugasnya sebagai pendidik sekaligus pengajar dengan baik dengan peran in loco parentis-nya. Pemerintah, bertanggung jawab dalam hal kontrol dan pengawasan tanpa diikuti proses pemandulan kreatifitas pekerja kaum seni. Rumah produksi dan produksi media lainnya harus sadar diri dan menjunjung norma-norma di masyarakat di atas kepentingan materi dan penjualan . Pengamat sosial harus terus berjuang menyuarakan pemikiran kritisnya tanpa bias dan prejudice.

Akhirnya memang semua berpulang kepada masing-masing kita. Sebagai seorang yang beragama, saya tidak memberikan toleransi apapun terhadap praktek homoseksual dalam bentuk apapun. Sebagai seorang yang berlajar ilmu sosial, saya berkewajiban untuk menyebarkan ilmu pengetahuan ilmiah dengan pengungkapan fakta. Tapi, ini hanya sebuah ikhtiar dan upaya untuk mencermati persoalan umat secara bijak (paling tidak bijak menurut kaca mata keilmuan saya). “Janganlah kebencian kamu terhadap suatu kaum menjadikan kamu tidak bisa berbuat adilWallahua’lam bis shawab.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: