20 Cara Mendisiplinkan Anak

It’s a sin to let your child off the hook just because you think she’s too young to understand rules and consequences.”

Itu adalah kalimat pertama sebuah artikel berjudul “The 20 Commandments of Toddler Discipline”, oleh Ari Brown, M.D dan Denise Fields yang bisa diakses lewat toddler411.com. Di dalam artikel itu, penulis menawarkan 20 cara untuk mendisiplinkan anak.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa seorang anak dilahirkan dengan tanpa dibekali ‘social skills,” sehingga mereka bersikap dengan mentalitas “survival of the fittest.” Itulah sebabnya menjadi kewajiban orang tualah untuk mendidik dan mengajarkan mereka untuk bersikap dengan benar dan wajar (dengan atau tanpa kehadiran anda). Sebagai orang tua, anda harus bisa menanamkan nilai nilai “good citizen” di dalam otak mereka (Freud menyebutnya superego) yang akan selalu mengingatkan dan mengatur sikap mereka.

EXPECT ROUGH SPOTS. Situasi tertentu bisa menimbulkan perilaku buruk pada diri anak. Berikanlah sang anak kesempatan untuk beralih dari satu aktifitas ke aktifitas yang lain. Misalnya “Nak, setelah menumpuk satu balok lagi, kita akan makan siang bersama.”

PICK YOUR BATTLE. Jika anda mengatakan tidak sebanyak 20 kali dalam sehari, semakin lama kalimat tidak itu tidak akan mempan lagi. Buatlah skala prioritas/ranking terhadap perbuatan anak. Jika anda membiarkan gangguan kecil (misalnya, sang anak berteriak setiap kali anda membuka email), mereka akan cenderung berhenti berteriak karena ternyata teriakan mereka tidak mampu menarik perhatian anda.

USE A PREVENT DEFENSE. Ciptakan suasana rumah yang ramah buat anak. Artinya, jangan menaruh barang yang diperkirakan bisa menarik perhatian anak dan membahayakan. Misalnya, tidak menaruh perhiasan gelas di atas TV yang mudah dijangkau dan dipanjat oleh anak.

MAKE YOUR STATEMENT SHORT AND SWEET. Bicaralah dengan singkat, seperti “Jangan memukul.” Ini lebih efektif dibandingkan dengan “Nak, tidak baik kalau memukul binatang.” Anda sudah akan kehilangan perhatian dari sang anak pada saat anda sampai pada kata “kalau.”

DISTRACT & REDIRECT. Sikap ini dilakukan secara terus menerus. Namun ketika anda ingin sang anak agar tertarik dengan aktifitas lainnya, maka sang anak akan kembali ke aktifitas yang tengah dia lakukan. Jangan menyerah. Bahkan jika sang anak mengacak acak tisu kamar mandi sepuluh kali sehari, dengan pelan bawalah sang anak keluar kamar mandi dan tutup pintunya.

INTRODUCE CONSEQUENCES. Anak harus belajar konsekuensi alamiah dari semua perbuatannya. Perkenalkan konsep sebab dan akibat. Misalnya jika sang anak berlama-lama sikat gigi di kamar mandi sebelum tidur, maka akibatnya tidak ada dongeng sebelum tidur.

DON’T BACK DOWN TO AVOID CONFLICT. Jangan mengalah untuk menghindari konflik. Jika anda memutuskan bahwa sang anak tidak akan mendapatkan sereal yang dia lihat di TV, maka tetaplah pada pendirian anda.

ANTICIPATE BIDS FOR ATTENTION. Mengantisipasi hilangnya perhatian. Ya, anak anda akan bertingkah jika mereka lepas dari perhatian anda, misalnya pada saat memasak atau menerima telepon. Oleh sebab itu, sangatlah penting untuk memberikan semacam hiburan (mainan kesukaan atau manakan kecil). Jika anda tidak mempersiapkan anak anda dikala anda sibuk, maka mereka akan menemukan sesuatu sebagai pengganti perhatian anda. Bisa jadi, sesuatu itu bukanlah hal yang anda kehendaki.

FOCUS ON THE BEHAVIOR, NOT THE CHILD. Selalu katakan bahwa perilaku tertentu itu buruk. Dan jangan pernah bilang ke anak bahwa anak anda nakal. Anda mendidik anak anda mencintai dia namun tidak menyukai perbuatan nya.

GIVE YOUR CHILD CHOICES. Berikan anak anda pilihan. Ini akan membuat mereka memiliki hak pilih. Hanya saja anda harus memastikan bahwa anda tidak memberikan terlalu banyak pilihan dan pastikan juga bahwa pilihan itu akan anda penuhi semuanya. Misalnya, “kamu mau pakai sepatu dulu atau jaket dulu?”

DON’T YELL. Janganlah berteriak, tapi rubah intonasi suara anda. Bukan volume yang penting, namun intonasi yang akan membuat pesan anda sampai ke anak. Ingat film The Godfather? Don Corleone tidak pernah berteriak.

CATCH YOUR CHILD BEING GOOD. Jika anda menghargai anak jika mereka berbuat baik, maka sang anak akan selalu melakukannya kembali. Dan nantinya mereka tidak akan lagi berbuat baik hanya untuk menarik perhatian anda. Ini bagus untuk menyuburkan superego mereka.

ACT IMMEDIATELY. Segeralah bertindak, jangan tunda mendisiplinkan anak. Anak tidak akan ingat perbuatan buruk mereka setelah lima menit.

BE A GOOD ROLE MODEL. Jika anda bersikap tenang pada saat anda sedang stress, anak pun bisa melihatnya. Mereka akan selalu melihat apa yang orang tua lakukan.

DON’T TREAT YOUR CHILD AS IF SHE/HE’S ADULT. Jangan perlakukan anak anda selayaknya orang dewasa. Mereka tidak membutuhkan ceramah anda, karena mereka tidak akan paham. Jika anak anda melempar makanan di dapur, jangan kuliahi mereka dengan “Kamu tidak boleh melempar makanan”. Dengan pelan, jauhkan mereka dari dapur selama seharian.

USE TIME-OUTS-EVEN AT THIS AGE. Sebut saja “kursi naka” atau apa sajalah. Jauhkan dia dari mainan atau acuhkan saja mereka selama satu menit ketika anak berumur setahun (dua menit untuk dua tahun dan seterusnya). Mencabut perhatian anda dari mereka merupakan cara yang paling efektif untuk menyampaikan pesan anda. Memang, anak di bawah umur 2 tahun tidak akan duduk di pojok ruangan atau di kursi-dan tidak ada masalah jika mereka bergelimpangan menendang-nendang di lantai sambil berteriak. Namun ada harus memastikan bahwa lokasinya aman bagi anak. Gunakan waktu “time out” ini setiap kali anak melakukan perbuatan yang kurang terpuji, seperti memukul teman mainnya misalnya. Lakukan setiap kali ada pelanggaran.

DON’T NEGOTIATE WITH YOUR CHILD OR MAKE PROMISE. Jangan pernah bernegosiasi dengan anak, apalagi memberikan janji. Bicara dengan anak bukanlah berbicara pada saat kampanye. Hindari perkataan “kalau kamu nurut, mamah akan belikan mainan yang kamu mau.” Sebab, nantinya anak akan menurut jika ada hadiahnya saja.

SHIFT YOUR STRATEGIES OVERTIME. Ubahlah strategi anda terus menerus. Apa yang efektif bagi anak berumur 15 bulan belum tentu efektif lagi jika mereka sudah berumur 2 tahun.

DON’T SPANK. Jangan menabok atau menampar, meskipun anda tergerak untuk melakukannya. Ingat bahwa andalah yang dewasa. Jangan bertindak seperti anak kecil. Menampar, menabok semacamnya hanya akan membuat anak berpikir bahwa menggunakan kekerasan itu adalah wajar.

REMIND YOUR CHILD THAT YOU LOVE HER. Baiknya di setiap akhir pendisiplinan selalu diikuti dengan komentar positif. Ini menunjukkan kepada anak bahwa anda siap untuk mengakhiri pendisiplinan dan masalah sudah dianggap selesai karena anda sayang padanya.

Sumber: Toddler 411: Clear Answer & Smart Advice For Your Toddler, oleh Ari Brown, M.D dan Denise Fields.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: